Pagi itu, jarum jam baru saja merangkak menuju pukul 06.45. Udara pagi masih terasa segar, namun lorong-lorong SMK Maharati sudah berdenyut dengan ritme yang unik. Tidak ada hiruk-pikuk obrolan siswa yang memecah konsentrasi, melainkan langkah-langkah pasti menuju satu muara: jendela dunia. Di ujung kiri seberang kelasnya, Vito berlari kecil. Raut wajahnya berbinar-binar, menyiratkan semangat yang tak tertahan meski tas punggungnya baru saja ia letakkan di kursi kelas. Tujuannya pagi itu hanya satu, yaitu perpustakaan sekolah.

Di lorong sebelah kanan meja peminjaman, mata Vito langsung tertuju pada deretan buku tebal. Tangannya dengan cekatan meraih sebuah buku bersampul putih bertuliskan “Desain Brief”. Sebagai siswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), buku kejuruan tersebut bak harta karun baginya. Pagi itu, Vito sudah bersiap. Ditelusurinya lembar demi lembar, dan dengan telaten ia menyalin kata demi kata menjadi kalimat dalam buku rangkuman yang tertata rapi. Pemandangan khusyuk ini terekam jelas dalam potret literasi (1), di mana para siswa di ruang kelas berhiaskan mural bertema visual tampak begitu fokus menunduk, menyelami lautan aksara di meja masing-masing sambil sesekali menggoreskan pena untuk membuat resume.
Apa yang dilakukan Vito bukanlah sebuah kebetulan atau paksaan, melainkan denyut nadi keseharian di SMK Maharati. Sejak sekolah ini berdiri, sebuah program literasi telah mengakar kuat menjadi tradisi. Setiap pagi, sebelum gemuruh mesin atau riuhnya diskusi di kelas kejuruan dimulai—tepatnya pukul 06.45 hingga 07.15—seluruh siswa dari kelas X hingga XII wajib menyisihkan waktu untuk membaca. Ribuan koleksi buku, mulai dari bacaan ringan, keterampilan praktis, hingga buku pelajaran, tersedia dan siap dipinjam. Para siswa diberi kebebasan membawa pulang buku sesuai peminatan mereka selama dua minggu, dengan opsi perpanjangan atau pengembalian secara berkala.

Berpindah ke balik dinding kelas sebelah, magisnya literasi ini semakin terasa. Di ruang kelas X TAB A, suasana hening menyelimuti seisi ruangan. Seperti yang tergambar jelas pada literasi (2), di bawah naungan dinding kelas yang dihiasi mural alat berat, para siswa pria—beberapa di antaranya dengan bangga mengenakan penutup kepala khas—tampak duduk tenang dan tenggelam dalam bacaan mereka masing-masing. Di bangku depan, Vellya sama sekali tak bergeming. Sambil membaca dan menulis, ia telah sepenuhnya masuk ke dalam dunia di balik lembaran kertas di tangannya. Dari satu kelas ke kelas lain, literasi menyatukan mereka dalam frekuensi kesunyian yang produktif.
Tentu saja, roda literasi ini tidak berputar dengan sendirinya. Di balik layar, ada “Sobat Pustaka”, sekelompok siswa pencinta buku yang bertindak sebagai motor penggerak. Di bawah binaan Miss Feb yang penuh dedikasi, para Sobat Pustaka ini diposisikan sebagai katalisator untuk memantik minat baca seluruh siswa. Hasil rangkuman dari buku yang dibaca tidak dibiarkan menumpuk begitu saja; semuanya dikumpulkan dan dievaluasi dengan cermat. Untuk menjaga nyala antusiasme, sekolah mencatat setiap pencapaian literasi dan memberikan penghargaan secara periodik kepada siswa.
Guru piket pagi itu tak ingin kehilangan momen berharga tersebut. Dengan kamera di tangan, ia sibuk memantau tanpa lengah sedikit pun. Senyum sumringah terus menghiasi wajahnya hingga ia kembali ke meja piket, bangga melihat generasi masa depan yang begitu bersemangat. Di SMK Maharati, literasi bukan sekadar merangkai ejaan. Ia adalah ritual pagi, sebuah ikhtiar tulus menanamkan wawasan luas dan pola belajar yang paripurna sebelum mereka benar-benar terjun menaklukkan kerasnya zaman.




