Di tanah Maharati, di mana kepak sayap burung enggang membelah sunyi dan arus sungai menuliskan kisah-kisah lama. Tiga sahabat yang terdiri dari Rathan, Tora, dan Mahira sedang sibuk merajut masa depan melalui lensa kamera. Namun, sebuah proyek dokumenter sekolah berubah menjadi pencarian yang menggetarkan jiwa ketika simbol warisan budaya mereka Mandau dan Talawang-lenyap dari tempatnya.
Pengejaran di tengah lebatnya hutan dan aroma tanah basah membawa Rathan pada sebuah kenyataan yang menyakitkan. Di balik tudung hitam sang pencuri, bukan sosok asing yang ia temukan, melainkan Agau-sahabat lama yang terpaksa putus sekolah karena himpiton kemiskinan Antara tanggung jawab menjaga kehormatan sekolah dan empati terhadap penderitaan seorang kawan yang terdesak lapar, Rathan dihadapkan pada pilihan sullit.
Ini bukan sekadar cerita tentang pencurian, melainkan tentang rekonsillasi luka yang tersembunyi di balik bilik rumah reyat, dan kekuatan memaafkan di bawah naungan langit Kalimantan.


























































